Rabu, 20 Mei 2009
dailysoccernews effenberg on becks
GettyImages
Stefan Effenberg and David Beckham battle in the Champions League
One-time Germany international Effenberg claimed the ex-England skipper drew a comparison with the Roy Keane, arguing that Beckham was not as fair on the field as his former Manchester United team-mate.
Beckham and Effenberg locked horns numerous times in the Champions League, most notably the final in 1999, a game Keane missed through suspension, and which saw United come from behind netting two late goals to defeat Bayern.
Talking in Germany's Bild newspaper, Effenberg was asked about his duels with the former England captain.
''Yes, there were (duels),'' said Effenberg. ''Also with Roy Keane. But Beckham was the more underhand of the pair. Roy Keane was hard and fair. He came from in front, knocked you away, everything was wonderful.
''But Beckham always came from behind, in the Achilles, I didn't like that.
''You didn't see him, and suddenly he clobbered you from behind in the tendon. No, Beckham was underhand.''
Minggu, 18 Januari 2009
Asuransi,perlukah?

Asuransi….mungkin bagi sebagian masyarakat awam jengah dengan kata ini. Bagaimana tid ak,asuransi ini sangat dekat dengan image agen atau sales force yang sangat agresif. Bahkan tidak sedikit orang yang menjadi nasabah asuransi,pada awalnya seperti ‘terpaksa’ membeli produk asuransi karena ‘risih’ dikejar-kejar oleh agen tersebut,walaupun pada akhirnya mereka merasakan juga manfaat atau benefit dari asuransi itu.
Pada hakikatnya, konsep asuransi adalah pengalihan resiko (risk shifting). Yaitu pengalihan resiko dari kita ke perusahaan asuransi. Misal kita mengasuransikan mobil kita,berarti kita mengalihkan segala sesuatu yang berkaitan dengan resiko terhadap mobil kita tersebut dari resiko yang akan menimpa kita ke perusahaan asuransi yang kita ikuti. Contoh kasus apabila kita mempunyai mobil LANCER terbaru seharga 300 juta kita terserempet atau bahkan hilang. Apabila kita tidak mengasuransikan mobil kita tersebut,berarti resiko kehilangan mobil seharga 300 juta tersebut menjadi beban kita. Resiko kehilangan itu akan menjadi resiko kita. Berbeda apabila mobil tersebut kita asuransikan, begitu terjadi suatu resiko terhadap mobil kita tersebut,pihak asuransilah yang akan menanggung segala resiko yang kita terima terhadap mobil tersebut.
Kita akan mendapatkan sejumlah uang seharga mobil tersebut apabila terjadi resiko hilang pada mobil tersebut. Nah,ilustrasi inilah yang menjelaskan tentang konsep asuransi yaitu pengalihan resiko (risk shifting). Asuransi yang semacam ini kita sebut sebagai asuransi TLO (total lost only). Selain TLO,kita juga mengenal asuransi yang bersifat All Risk, yang menanggung resiko tidak hanya meliputi kehilangan saja. Bahkan mobil kita baret,atau kehilangan spionpun pihak asuransi akan menggantinya.
Dalam konteks kehidupan kita sehari-hari terlebih dalam perspektif jangka panjang, asuransi ini sangat bermanfaat sebagai fungsi untuk mempertahankan tingkat kualitas finansial seseorang atau keluarga ketika terjadi resiko terhadap tulang punggung keluarga (baca : pencari nafkah ). Ilustrasinya adalah seperti ini : Keluarga pak Beny adalah keluarga yang sangat berbahagia yang terdiri dari 2 orang anak dan istrinya yang sangat dicintainya. Sehari-harinya pak Beny adalah seorang pengusaha yang cukup sukses,dengan rata-rata pendapatan bersih 25 juta per bulan. Dari 25 juta tersebut setelah dikurangi dengan kewajiban-kewajiban pak Beny seperti bayar listrik, kartu kredit, kredit rumah, biaya sekolah anak-anak dll,total pengeluaran pak Beny adalah Rp 20 juta. Singkatnya, dengan uang 25 juta hasil kerja pak Beny, keluarga tersebut hidup serba berkecukupan dengan rumah dan mobil yang sangat lumayan. Sampai pada suatu ketika bencana datang. Karena serangan jantung pak Beny meninggal mendadak,akibatnya sangat mudah ditebak,keluarga tersebut bagai kapal tanpa nahkoda. Secara finansial keluarga tersebut juga mengalami guncangan. Betapa tidak,”ATM” keluarga tersebut yaitu pak Beny meninggal, praktis tidak ada lagi pemasukan 25 juta perbulan untuk kelangsungan hidup sehari-hari. Keluarga tersebut mungkin masih tetap bisa melangsungkan hidupnya dengan sisa-sisa tabungan maupun bantuan dari keluarga. Akan tetapi kualitas hidup secara finansial bisa dikatakan menurun karena 25 juta perbulan bagi keluarga tersebut sudah tidak ada.
Akan berbeda ceritanya bila pada masa hidupnya pak Beny mempunyai polis asuransi. Begitu terjadi resiko meninggal pada dirinya,akan keluar sejumlah uang bagi keluarga yang ditinggalkan untuk mempertahankan kualitas finansial dari keluarga tersebut. Dari ilustrasi yang kedua inilah yang merupakan fungsi asuransi sebagai salah satu instrumen untuk mempertahankan kualitas hidup secara finansial. Keluarga yang ditinggalkan,secara finansial tetap bisa mempertahankan kualitas hidupnya seperti ketika kepala keluarganya masih ada. Menurut saya,sebenarnya fungsi asuransi inilah yang paling mulia.
Asuransi,perlukah???
Kita mengenal berbagai macam asuransi,mulai dari asuransi jiwa, asuransi kesehatan, asuransi kendaraan bermotor, asuransi kerugian dsb. Image yang melekat sangat kuat di asuransi ini agennya yang sangat agresif, mungkin ada diantara anda yang sudah merasakannya. Akan tetapi dibalik itu semua sebenarnya apakah asuransi itu sendiri? Seberapa pentingkah asuransi itu bagi kita? Pertumbuhan asuransi di beberapa perusahaan asuransi bahkan mencapai 300%. Fenomena apakah ini? Melihat pertumbuhan asuransi yang sangat cepat di Indonesia,ah…jangan-jangan anda belum ikut dalam euforia berasuransi ini